Bank

Jumat, 14 Desember 2018

Aquaman



AQUAMAN BERENANG LEWATI RP 1 TRILIUN

Pecah di Tiongkok, Indonesia Tayang Besok

                BEIJING – Aquaman akhirnya dirilis! “Anak TunggalWarner Bros dan DC Comics untuk 2018 tersebut ditayangkan kali pertama di Tiongkok pada 7 Desember. Di Indonesia, film yang dibintangi Jason Momoa dan Amber Heard itu rilis perdana besok (12/12). Meski belum ada rating dan ulasan resmi, Aquaman pantang dilewatkan.
                Buktinya, film besutan James Wan tersebut sudah memecahkan rekor pendapatan rilis film Warner Bros di Tiongkok. Yakni, hanya dalam waktu tiga hari telah mengantongi USD 93,6juta (Rp1,36triliun). Catatan itu lebih tinggi daripada pemegang rekor sebelumnya, Ready Player One. Bahkan, selisihnya mencapai 66 persen.
                Wan langsung meryakan di twitter. “Terima kasih Tiongkok atas promosi dari mulut ke mulutnya,” cuitnya. Dia menyatakan, Aquaman menghadirkan suasana baru di tengah ramainya film superhero. Soalnya, film tersebut dibuat dengan ciri khasnya. Tidak sekedar memenuhi keinginan pasar.
                “Penting buatku membawa ‘stempel’ diriku, konsep visual dan estetikku, serta membawa karakter baru,” papar Wan sebagaimana dikutip ComicBook. Sosok Aquaman yang sudah tampil di Justice League tahun lalu juga dibuat berbeda. Lebih segar. Bukan karena Jason Momoa – pemeran Arthur si keturunan kerajaan Atlantis – sering beradegan dengan deburan air, tapi memang filmnya lebih fresh.
                Hal tersebut diakui Jason Momoa. Di film solonya, dia mengakui, ada kesamaan antara dirinya dengan karakter yang punya alter ego Arthur Currry itu. Yakni, sama-sama blasteran. Curry digambarkan separo manusia, separo makhluk Atlantis.
                “Dia tidak diterima di dua tempat tersebut. Aku bisa memahaminya. Aku adalah kelahiran Hawaii, namun besar di Iowa,” ungkapnya. Penggambaran itulah tidak ditampilkan di Justice League.
                Aquaman yang lebih manusiawi dinilai Momoa sebagai kesempatan bagus buat memamerkan kemampuan aktingnya. Soalnya, selama ini, dia hanya dikenal gara-gara bada kekarnya. “Nyatanya, aku adalah drama queen selama syuting. Aku menangis terus-terusan,” paparnya ketika mengikuti sesi press tour di Inggris.
                Bila karakter Aquaman digambarkan lebih rapuh, beda ceritanya dengan Queen Mera yang diperankan Amber Heard. Ratu Atlantis itu digambarkan sebagai seorang ratu sekaligus petarung yang sangar.
                Dengan karakter pahlawan cewek super yang tangguh, Heard berharap Mera bakal dapat slot film sendiri. Dia bahkan terang-terangan ingin berkolaborasi dengan Wonder Woman, superhero yang diperankan Gal Gadot. “Mereka bakal jadi duo yang keren banget. Ayo kita wujudkan, Warner Bros,” ucapnya.
                Berbekal hasil positif di Tiongkok, pihak Warner Bros dan DC Comics pun optimis mematok target besar di Amerika Utara. Di sana, Aquaman baru tayang pada 21 Desember. Bersamaan dengan Bumblebee dan Mary Poppins Returns. Mereka yakin film dengan setting bawah laut itu mampu menembus USD 65juta (Rp 946,9 miliar) di akhir pekan perdananya.
                “Kalau target tersebut tercapai, Toby Emmerich (chairman Warner Bros Pictures Group) akan mempertimbangkan sekuel,” ungkap salah seorang sumber sebagaimana dikutip Hollywood Reporter. (RTE/ComicBook/NME/fam/c22/jan)
Sumber: Jawa Pos, 11 Desember 2018

Aquaman, Film Solo Superhero dari Atlantis

CERITA PADAT
VISUAL SERU

Lupakan Aquaman yang kita kenal di Justice League. Sebab, di film solonya, dia digambarkan plek versi komiknya. Sang pahlawan super yang punya kisah kompleks. Lebih rapuh, lebih manusiawi, sekaligus lebih asyik disimak.

                SEKILAS, Aquaman mengingatkan penonton pada Black Panther. Sama-sama mengulas latar belakang tokoh baru dengan komplet. Atlanna menjadi pembuka cerita. Ratu Atlantis itu terdampar dan ditolong penjaga mercusuar. Tom Curry. Keduanya jatuh cinta. Lahirlah Athur Curry yang namanya terinspirasi dari badai besar yang terjadi ketika dia lahir.
                Jalan Curry menjadi pahlawan super cukup rumit. Di daratan alias dunia manusia, dia dianggap aneh. Kemampuan fisiknya melebihi orang-orang sebayanya. Dia bisa “ngobrol” dengan ikan dan makhluk air lainnya.
                Sementara itu, di Atlantis, dia tidak diterima. Dia dan sang ibu merupakan musuh buat penghuni laut dalam. Keduanya dianggap ada di pihak manusia yang dianggap merusak habitat laut dengan dengan sampah-sampahnya. Aquaman juga menjadi pesaing berat Orm yang berambisi menjadi penguasa lautan.
Arthur memutuskan menjadi pahlawan dengan caranya sendiri. Dia ikut mangatasi kasus yang terjadi di lautan. Termasuk pembajakan kapal. Mirip Batman. Orang-orang ramai menjulikinya Aquaman. Misteri tentang keluarganya di Atlantis perlahan terkuak.
Perjalanan Aquaman dikemas dengan padat. Latar belakang tokoh sentralnya diurai satu per satu sehingga mereka yang enggak mengikuti versi komiknya pun bisa menikmati film.
Warner Bros dan DC Comics selaku rumah produksi pun banyak belajar dari kegagalan film terdahulunya. Cerita yang mengenyangkan tetap diwarnai humor kocak hingga kejutan. Dengan begitu, durasi dua jam lebih tidak terasa panjang dan membosankan.
Sutradara James Wan beserta tim produksi jelas layak dapat acungan jempol. Mereka mampu mengemas kehidupan laut beserta isinya dengan apik. Efek visualnya pun memukau. Computer general imagery-nya halus sehingga penonton seakan diajak betulan menyelam ke laut dalam dan menyaksikan makhluk-makhluk unik.
Emily Yoshida, kontributor New York Magazine dan Vulture, menilai bahwa Aquaman sebenarnya punya ciri khas yang “DC banget”. Ceritanya padat, tokoh utamanya punya keterkaitan erat dengan ibu. Sama seperti Batman dan Superman. “Tapi, imajinasi visualnya sangat menarik dan seru,” paparnya.
Sementara itu, Kenneth Turan dari Los Angeles Times menilai, Aquaman cukup lemah dalam hal dialog. “Rasanya, seluruh aksinya ‘ditumpahkan’ begitu saja lewat percakapan,” terangnya.
Kontibutor USA Today Brian Truitt menilai, film superhero pertama Wan itu merupakan langkah berani. “Penuturan kisahnya liar dan sangat cair,” ulasnya. Sementara itu, Mara Reinstein adri US Weekly menilai, Aquaman terlalu mengandalkan Momoa sebagai lakon. “Ketika sosoknya dihilangkan, kita Cuma dapat rangkaian scene yang berantakan,” jelasnya. (fam/c25/jan).
AQUAMAN
Rating usia: R 13+
Genre: Fantasi, fiksi ilmiah
Durasi: 142 menit (terdapat satu mid-credits, jangan buru-buru beranjak!)
Sutradara: James Wan
Pemeran: Jason Momoa, Amber Heard, Patrick Wilson, Nicole Kidman
IMDb 8,2
Rotten Tomatoes 75%
Sumber: Jawa Pos, 14 Desember 2018
Sumber foto: https://www.google.com/search?q=gambar+film+Aquaman&safe=strict&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=RB40DvMgleMX0M%253A%252CTTjF8NqWF8dEmM%252C_&usg=AI4_-kQAv6f9PBZF7Pw6cOQvtUOwF8Y3aw&sa=X&ved=2ahUKEwi72eGszKDfAhVEv48KHQYZDuwQ9QEwA3oECAAQCg&biw=1366&bih=577#imgrc=3le4p56Po3BaDM:

 



Selasa, 24 Januari 2017

Resident Evil: The Final Chapter

FLASHBACK
RESIDENT EVIL (2002)
Kebocoran virus T di The Hive, laboraturium milik Umbrella Corporation, mengakibatkan manusia menjadi zombi. Umbrella Corporation memiliki program bernama Red Queen. Program tersebut membunuh siapa pun agar virus T tidak tersebar. Alice berhasil menghentikan Red Queen.

RESIDENT EVIL: APOCALYPSE (2004)
Red Queen yang telah dimatikan mengakibatkan virus T tersebar ke Racoon City. Sementara itu, Jill Valentine, polisi di Racoon City, mendapat misi yang menemukannya dengan Alice. Mereka bersatu melawan Umbrella Corporation. Misi itu berhasil membawa mereka keluar dari Racoon City.

RESIDENT EVIL: EXTINCTION (2007)
Berlokasi di sebuah gurun pasir, Alice berusaha sembunyi dari Umrella Corporation. Dia bertemu dengan beberapa survivor yang hidup nomaden. Mereka berusaha mencapai Alaska yang diisukan menjadi tempat teraman dari virus T. Bukannya sampai Alaska, Alice justru terjebak kembali di The Hive.





RESIDENT EVIL: AFTERLIFE (2010)
Di The Hive, Alice menyadari bahwa darahnya digunakan untuk percobaan yang mengahsilkan ratusan kloningannya. Alice melanjutkan perjalanan hingga ke Arcadia, kapal yang digunakan sebagai tempat berlindung. Di sanalah Alice berhasil membunuh Wesker, pimpinan Umbrella Corporation.





RESIDENT EVIL: RETRIBUTION (2012)
Alice dikejutkan kehadiran Wesker yang kembali hidup. Berbeda dengan sebelumnya, Wesker ternyata mengkhianati Umbrella Corporation dan berpihak kepada Alice. Kali ini Alice bersama Wesker harus melarikan diri. Mereka pun bersatu untuk survive dari jutaan zombi. (raf/c14/als)



EVIL COMES HOME
SERI TERAKHIR
KEMBALIKAN ALICE KE TITIK AWAL PERJALANAN
Setelah 15 tahun, tampaknya penggemar Resident Evil harus mengucapkan selamat tinggal pada serial tersebut. Yap, Resident Evil: The Final Chapter sebagai seri terakhir tayang pada 27 Januari mendatang di Amerika Serikat. Meneruskan cerita sebelumnya, film itu menggambarkan perjalanan Alice kembali ke Racoon City.
Seperti kelima seri sebelumnya, Milla Jovovich kembali memerankan Alice yang menjadi bagian dari sekelompok manusia terakhir. Di ambang kepunahan manusia yang terus bertransformasi menjadi zombi, Alice juga harus mengahdapi serangan dari Umbrella Corporation. Di sisi lain, Alice masih tetap berusaha mencari penyebab utama persebaran virus T demi mengembalikan kondisi semula.
Sebagai klan terakhir dari manusia yang tersisa, satu-satunya cara bagi Alice untuk membalikkan situasi adalah kembali ke asal perjalanannya di Racoon City. Alice meyakini bahwa kemunculan para zombi tidak hanya disebabkan Umbrella Corporation. Menurut dia, terdapat informasi yang bisa didapatkannya hanya dengan masuk kembali ke The Hive.
Selain menunjukkan akhir perjuangan Alice, seri terakhir itu bakal mengajak penggemar Resident Evil bernostalgia. Beberapa karakter yang pernah muncul di seri sebelumnya turut mewarnai film tersebut. Sebut saja Jill Valentine dan Chris Redfield. Paul W. S. Anderson, sutradara sekaligus scripwriter serial itu, bahkan menghadirkan beberapa environment di film sebelumnya.
“Aku ingin membuat film yang bisa membuat orang-orang merasa rindu menonton Resident Evil sejak awal hingga akhir,” ungkap Anderson dilansir dari Dread Central. “Kami akan mengajak penonton flash back ke film pertama. Termasuk kembali ke The Hive di mana Alice pernah mengira berhasil menyelesaikan masalah,” lanjutnya.
Demi menggambarkan Racoon City yang sudah hancur, tim produksi memilih Afrika Selatan sebagai setting utama film tersebut. “Lokasinya sangat menakjubkan. Orang yang melihat pasti akan berpikir bahwa film ini penuh dengan efek CGI. Padahal, itu hanya sebuah jalan tol terbengkalai,” jelas Anderson pada LRM. Bukan hanya itu, beberapa Youtuber lokal juga dilibatkan untuk memerankan karakter zombi di seri terakhir tersebut.
Keterlibatan Lee Joon-gi, aktor Korea Selatan, makin menambah nilai plus film tersebut. Memerankan tokoh Komandan Lee, Joon-gi dituntut lihai berkelahi dan menggunakan senjata. Meski begitu, keberadaan Jovovich sebagai tokoh utama diakui Joon-gi banyak membantunya. “Milla Jovovich benar-benar menginspirasiku. Kami banyak beajar untuk saling menyinkronkan gerakan dalam beberapa scene perkelahian,” kata Joon-gi pada KdramaStars.
Menjadi satu-satunya pemeran yang muncul di setiap seri, Jovovich mengungkapkan kesedihannya saat harus mengakhiri franchise tersebut. “Lima belas tahun lalu, aku tidak pernah membayangkan akan membahas akhir film ini. Rasanya, film ini sudah seperti bagian dari diriku sendiri,” tuturnya pada ComingSoon.
Film yang penayangannya sempat ditunda karena kehamilan Jovovich itu memakan biaya USD 30 juta. Dengan bujet sebesar itu, diharapkan film tersebut menjadi penutup yang manis dari serangkaian Resident Evil. (IMDb/Variety/raf/c14/als)

BUKAN SERIAL
ZOMBI BIASA
SEBAGAI film adaptasi game, serial Resident Evil menuai banyak kesuksesan. Terbukti, beberapa serinya menjadi box office saat penayangan. Eksistensi itu tentu tidak terlepas dari kerja keras tim produksi dalam mengemas tiap seri. So, kenapa sih film itu bisa long-lasting dan punya penggemar setia? (raf/c25/als)

¤¤ Beragam Variasi Zombi
Berbeda dengan film zombi lainnya, serial Resident Evil menawarkan bentuk zombi yang cukup cerdas. Tidak sekedar menyerang manusia yang tidak terinfeksi, zombi pada film tersebut mampu berevolusi. Beragam makhluk mengerikan hasil percobaan Umbrella Corporation pun turut menghiasi serial itu.
¤¤ Tidak Monoton Bikin Betah Nonton
Berbeda dengan film-film zombi lain yang hanya menampilkan cara untuk survive, Resident Evil berhasil membawakan cerita antimonoton. Misalnya, misi Alice yang selalu menegangkan pada tiap serinya. Bukan hanya itu. Ancaman zombi yang digambarkan terus meningkat di tiap seri.
¤¤ Peralatan Super Canggih
Penggemar Resident Evil pasti setuju bahwa zombi bukan satu-satunya peran antagonis pada serial itu. Red Queen-lah yang menjadi inti dari semua masalah. Selain itu, film tersebut dilengkapi berbagai senjata bertekhnologi tinggi yang mendukung adegan action pada tiap serinya.
¤¤ Terus Berimajinasi di Berbagai Lokasi
Serangan zombi tidak hanya berpusat di kota besar, tapi juga di berbagai tempat. Misalnya, gurun pasir yang ditampilkan di Resident Evil: Extinction. Atau serangan tiba-tiba di bawah tanah seperti di sekuel pertama. Bahkan, zombi di film ini juga didapati di lautan es. Serem !

¤¤ Sumber: ZETIZEN for Jawa Pos, 22 Januari 2017







Kamis, 19 Januari 2017

Wiji Thukul "Istirahatlah Kata-kata"


Wiji Thukul Ungkap Sejarah Orde Baru lewat Puisi
PENGORBANAN bangsa Indonesia demi membentuk kesatuan negara yang kukuh emang nggak sedikit. Perjuangan menyatukan pikiran masyarakat dari Sabang sampai Merauke nggak pendek, apalagi mudah. Sayang, beberapa bagian sejarah Indonesia justru kurang terekspos mendalam pada buku pelajaran sekolah.
Menyadarinya, sutradara Yosep Anggi Noen dan produser Yulia Evina Bhara mengusung film Istirahatlah Kata-Kata. Menceritakan momen berakhirnya Orde Baru lewat keseharian penyair Wiji Thukul, film tersebut mampu menembus festival bertaraf internasional. Nggak heran, Istirahatlah Kata-Kata menuai banyak pujian.
Film itu dikemas melalui kacamata Wiji Thukul, sastrawan dan aktivis asal Solo. Sang sutradara, Anggi, berusaha membangun gambaran ketakutan masyarakat pada masa itu, khususnya keluarga hingga teman yang dikenal para aktivis. Setelah insiden Kudatuli (kerusuhan pada 27 Juli 1996), Wiji Thukul dinyatakan sebagai buron. Dia yang menyayangi keluarganya terpaksa lari ke Pontianak. Masa krusial Wiji Thukul pun dimulai. Jauh dari kawan dan keluarga membuat Wiji sadar bahwa langkahnya nggak bisa berhenti di sana.
Bagi Anggi dan Yulia, mengangkat kembali cerita hilangnya beberapa aktivis saat perjuangan mengakhiri Orde Baru bukanlah perkara mudah. Namun, mereka ingin masyarakat tetap ingat bahwa demokrasi yang  bisa dihirup hari ini adalah perjuangan sulit saat itu. “Bahkan, Wiji Thukul dan 12 kawannya hilang dan belum kembali hingga hari ini,” tegas Yulia.
Karena itu, puisi-puisi Wiji Thukul menjadi bahan utama buat meracik film tersebut. Karya yang mewakili pandangan Wiji yang lugas dan jujur itulah yang ditafsirkan Anggi dkk untuk menggarap film tersebut secara mendalam. Lewat diskusi panjang, Anggi mengambil benang merah puisi Wiji Thukul dan meramunya menjadi dialog yang jauh dari kesan politik, melainkan cerita pergulatan hati sang satrawan.
“Wiji menyajikan kesehariannya dalam puisi yang lugas sekaligus lugu. Hal itu sangat efektif mencatat situasi saat itu serta mengorek sistem politik dan kekuasaan yang kurang sesuai pada masa itu,” ujar Anggi.
Bukan hanya itu, sanjungan Anggi dan tim terhadap puisi Wiji nggak hanya dibentuk pada dialog dan soundtrack film, tapi juga penokohan. Para pemeran Istirahatlah Kata-Kata di-treatment agar mengekplorasi sendiri karakter yang mereka perankan. Misalnya, terpilihnya Gunawan Maryanto sebagai sosok Wiji Thukul.
“Dia dipilih karena juga dikenal sebagai seorang penyair dan satrawan yang memercayai kata-kata layaknya Wiji Thukul,” ucap Yulia, produser yang juga pernah menggarap film On the Origin of Fear. Selain itu, akting Marissa Yunita sebagai Sipon, istri Wiji Thukul, yang tertekan dengan lingkungannya pada masa itu nggak kalah cemerlang.
Dpersiapkan sebagai film festival dengan materi yang cukup berat, film tersebut telah lama diimpikan Anggi dan Yulia agar mampu menembus layar bioskop. Perjuangan secara mandiri untuk bisa masuk di layar kaca mainstream dimulai dengan menggaet banyak rumah produksi dan mencuri kesempatan tampil di berbagai festival film. Cara itu menjadi langkah kuat agar film tersebut mendapat respons positif masyarakat. Termasuk mencapai tujuan utama mereka, yakni membuka wawasan generasi sekarang tentang situasi pada zaman Orde Baru.
Mereka percaya, menambah keragaman film di layar bioskop Indonesia mampu mengubah pola pikir generasi sekarang yang hanya terlihat hedon. “Terbukti, saat Busan Internasional Film Festival, ada sekitar 13 anak muda dari Indonesia yang mau menonton dan mengapresiasi film itu. Begitu pula di Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang sebagian besar penontonnya adalah anak muda,” ungkap Anggi bangga. (pew/c22/ivm)

Kumpulkan Fakta dari Saksi Sejarah
DEMI meracik dialog dan membentuk karakter setiap tokoh. Yosep Anggi Noen dan timnya menelusuri perjalanan Wiji Thukul. Mereka mencari tahu kebiasaan Wiji saat bersama keluarga hingga sikapnya dalam melontarkan puisi-puisinya di berbagai gerakan massa. Riset itu berjalan selama 1,5 tahun.
Berawal dari literasi karya Wiji Thukul, Anggi melihat bahwa puisi Wiji Thukul bukan hanya puisi protes untuk pemerintahan masa itu. Puisi satrawan tersebut juga berisi tentang kesehariannya. Baginya, membaca puisi-puisi Wiji Thukul seperti membaca catatan harian seseorang tentang rumah sederhana, nasi, roti yang nggak terbeli, dan cerita-cerita tetangga.
Pendekatan bersama keluarganya memberikan gambaran beberapa hal yang diwariskan sastrawan tersebut kepada anak-anak dan istrinya. Misalnya, sosok Fajar Merah, si bungsu yang menekuni dunia musik bersama Merah Bercerita dan lantangnya suara si sulung Fitri Nganthi Wani. Selain itu, kemandirian Sipon-sang istri- terasa saat menunjukkan benda bergambar suaminya sebagai ingatan bersama.
Selanjutnya, pencarian berlanjut dengan menelusuri sahabat seperjuangan Wiji ketika masih di Solo. Termasuk orang yang dikenal Wiji saat melakukan pelarian ke Pontianak. Kawan-kawannya di Partai Rakyat Demokratik seperti Danial indra Kusuma, Raharja Waluya Jati, Nur Widiatmaka, dan banyak lagi senantiasa menggambarkan pemikiran Wiji yang lugu tapi kuat.
Lebih menarik lagi, cerita dari Jaap Erkelens, direktur Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde (KITLV). Dialah teman Wiji yang berkebangsaan Belanda yang kali pertama mengingatkan publik bahwa Wiji masih hilang. “Mereka benar-benar memberikan materi sejarah Indonesia yang tidak akan diberikan siapa pun,” terang Yulia Evina Bhara, produser Istirahatlah Kata-Kata.
Setelah mereka mendengar jejak hidup Wiji secara menyeluruh, masa Wiji Thukul yang melarikan diri ke Pontianak dipilih untuk diangkat ke dalam film. Masa itu dipilih karena saat itu merupakan situasi paling krusial yang harus dihadapi Wiji Thukul.
Nggak mau membuang waktu, Anggi dan timnya juga menyusuri Kalimantan Barat untuk mencari orang yang pernah bertemu dengan Wiji. Ada kenalan Wiji, yaitu Stephanus Djueng, Martin Siregar, dan Idawaty, yang bersedia menampung Wiji selama masa buron.
Hingga terkuak fakta menarik bahwa meninggalkan keluarga bukanlah keinginan seorang Wiji. Dia lari menuju Pontianak bukan karena takut, melainkan demi menyelamatkan keluarganya. Dia paham, keluaganya makin susah jika dirinya msaih menetap di Solo pada situasi seperti itu. Tapi, sekitar Januari 1997, Wiji kembali ke Solo untuk menjenguk keluarganya dan kembali lagi ke Pontianak hingga pergi ke Jakarta untuk kembali melakukan gerakan. “Dari Solo, Jakarta, hingga pedalaman Sanggau di Kalimantan sana, kami beruntung bisa bertemu dengan pelaku-pelaku kunci sejarah ini,” tutur Yulia. (pew/c14/ivm)

Hidupkan Sosok Bapak Melalui Soundtrack
SELAIN dikenal lewat puisinya, sosok Wiji Thukul merupakan aktivis yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru, nggak heran, idealismenya menurun kepada si anak, Fajar Merah. Ya, Fajar adalah salah seorang personel Merah Bercerita, pengisi soundtrack film Istirahatlah Kata-Kata.
Seakan nggak ingin puisi sang ayah mati, Fajar lantas menghidupkan puisi-puisi tersebut melalui musik yang diusungnya. Hingga akhirnya, salah satu tembangnya, Bunga dan Tembok, dipilih menjadi soundtrack dalam film Istirahatlah Kata-Kata yang menceritakan kehidupan bapaknya.
Diadaptasi dari puisi terkenal milik Wiji Thukul pada 1987, puisi itu bercerita tentang pembangunan pemerintah pada pemerintahan Soeharto. Dalam puisi tersebut, menurut Fajar, bunga diibaratkan sebagai rakyat kecil yang dirontokkan dan nggak diharapkan tumbuh di tanahnya sendiri. Tembok diibaratkan sebagai penguasa yang suka merampas tanah.
“Tapi, arti puisi itu ya penulisnya yang lebih tahu. Kalau ketemu, tanya saja artinya, hehe,” ucapnya lalu bercanda. Emang, puisi tersebut merupakan wujud ekspresi Wiji yang menggambarkan keserakahan pemerintah pada saat itu, tepatnya tentang keadaan pribumi yang nelangsa di tanah sendiri karena adanya tirani. Sebuah bentuk pemerintahan yang lebih mementingkan urusan pribadi di atas kepentingan rakyat.
Untuk urusan lagu, Merah Bercerita nggak mematok genre khusus untuk berkarya. Mereka mengistilahkannya sound of freedom agar tiap pendengar bebas memaknai dengan genre apa saja. Saat ini Merah Bercerita merekam album baru.
Band itu mengusung tema yang menekankan kepada pribadi manusia. Tujuannya, mengintrospeksi diri, sudah manusiakah aku ini? Untuk menghasilkan karya-karya yang ciamik, Merah Bercerita membutuhkan waktu agak lama.
Hampir sama dengan sang bapak, daripada menjadi musisi atau sastrawan terkenal yang masuk TV, Fajar lebih suka karyanya didengar sekaligus mewakili masyarakat. “Tema albumnya bakalan lebih ke diri pribadi. Bagaimanapun juga, kan diri sendiri butuh dibenahi,” ujar Fajar. (fri/c5/ivm)

Sumber: ZETIZEN – Jawa Pos, 18 Januari 2017
Gambar:https://www.google.co.id/search?q=gambar+film+Istirahatlah+kata-kata&espv=2&biw=1272&bih=634&tbm=isch&imgil=KJ-XX2lJBy7QpM%253A%253BTjq2XfR-LRIgCM%253Bhttp%25253A%25252F%25252Fwww.storibriti.com%25252Fvideo%25252Fcup-of-tea%25252Fistirahatlah-kata-kata-film-mengenang-sang-pejuang-dan-pujangga-1608158.html&source=iu&pf=m&fir=KJ-XX2lJBy7QpM%253A%252CTjq2XfR-LRIgCM%252C_&usg=__8vpUDqgqWtGYr6njsbO8BLSjcNE%3D&ved=0ahUKEwio8a2Ixs_RAhUDa7wKHReGAREQyjcIMg&ei=lWSBWOjSI4PW8QWXjIaIAQ#imgrc=b4Hik58h5D33DM%3A 




Jumat, 06 Januari 2017

The Mummy

Teror Baru, Mumi Baru, Lebih Seram

Reboot The Mummy Dibintangi Tom Cruise
LOS ANGELES – Film horor fantasi The Mummy pernah sangat ngehit pada akhir 90-an. Dibintangi Brendan Fraser, film yang tayang pada 1999 itu sampai dibuatkan dua sekuel. Yakni, The Mummy Returns (2003) dan The Mummy: Tomb of Dragon Emperor (2008). Tahun depan (2017) Universal Pictures akan menayangkan versi reboot The Mummy. Tak tanggung-tanggung, aktor ganteng, Tom Cruise bakal mengisi slot peran utama.
Trailer perdana The Mummy resmi rilis (5/12). Diawali dengan suasana mencekam saat pesawat yang dinaiki Nick (Cruise), Jenny (Annebelle Wallis), serta pasukan militer khusus mengalami kecelakaan. Sebuah peti kuno berisi mumi Putri Ahmanet (Sofia Boutella) dari mesir kuno turut terjatuh ketika pesawat mengempas bumi.
Selamat dari kematian, Nick dan Jenny belum bisa bernapas lega. Sang mumi bangkit. Lalu, seperti film-film sebelumnya, cerita bergulir bagaimana Nick membebaskan dunia dari teror Putri Ahmanet. “Melihat The Mummy baru yang penuh dengan adegan action, saya jadi bersemangat untuk memerankan Nick,” kata Cruise kepada Sydney Morning Herald.
Bintang lima film Mission: Impossible itu ternyata pernah ditawari bermain dalam franchise  lama The Mummy. Dia menolak dan peran jatuh ke tangan Fraser. Melihat naskah installment baru, dia tidak bisa lagi menolak.
Setting film menawarkan dua dunia berbeda. Yakni, padang pasir Mesir serta Kota London modern. Adegan penyerangan oleh mumi Ahmanet pun digambarkan lebih suram dengan dominasi warna gelap dan kehancuran dahsyat. Selain itu, seperti dibilang Cruise, unsur action lebih banyak.
Aktor 54 tahun itu harus melakukan adegan seperti melayang, berguling di reruntuhan, atau menghadapi ledakan. “Syuting seru banget. Terlebih saat adegan pesawat jatuh. Saya jadi teringat adegan Mission: Impossible Rouge Nation, saat saya harus mencapai pesawat dengan berpegangan di badan pesawat,” papar ayah tiga anak itu. (len/c19/na)
Sumber: Jawa Pos, Selasa 6 Desember 2016
Picture by www.facebook.com/PRCINEPR/ 


Selasa, 06 September 2016

WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS!

NOSTALGIA HUMOR ALA TRIO KOCAK
“Jangkrik Boss!”
            ITULAH salah satu ucapan paling legendaris ala Warkop DKI. Mungkin tidak banyak generasi muda yang tahu Warkop DKI dengan guyonan ringan dan cerdas. Namun, bagi penikmat serial TV pada era 70-90-an, nama Warkop DKI tentu sudah tidak asing. Karena ingin membawa kemabli nostalgia kekocakan ala Dono, Kasino, dan Indro, Anggy Umbara berkolaborasi dengan Indro warkop menggarap Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part I.
Untuk mempertahankan ciri khas Warkop DKI, Anggy sengaja menggabungkan beberapa film Warkop DKI lama. Di antaranya, CHIPS, Setan Kredit, dan IQ Jongkok, Anggy dan sang prosedur eksekutif, Indro, tidak berniat mengubah fondasi dari style joke dan gimmick Warkop DKI. Pembaruan justru lebih diutamakan pada story line dan materi lawakan yang lebih masa kini. “Karena itu, gaya film ini kurang tepat kalau disebut remake atau reboot. Lebih tepat kalau disebut sebagai reborn atau lahir kembali,” ungkap Anggy.
Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) terdaftar sebagai anggota muda CHIPS (Cara Hebat Ikut-ikutan Penanggulangan Sosial). Sebagai anggota yang belum lama menjabat dalam organisasi sosial tersebut, mereka sangat bersemangat menyelesaikan berbagai masalah yang didapat. Sayangnya, permasalahan yang mereka selesaikan justru makin besar.
Untuk mengarahkan tim DKI mampu menyelesaikan misinya dengan baik, pimpinan CHIPS pun memangil anggota terbaiknya dari Prancis, yakni Sophie (Hannah Al Rashid). Tidak sekadar cantik, Sophie juga lihai mengungkap kasus-kasus yang dihadapi CHIPS. Dengan aksi kocak DKI dan ketegasan Sophie, mereka berempat bakal mengungkap kasus begal motor yang dilanda masyarakat Jakarta.
Rencana pembuatan film reborn itu ternyata muncul sejak 2013. “Saat itu masih pembuatan film pertama Comic 8. Bang Indro langsung nyeletuk nih untuk membuat film baru Warkop DKI,” jelas Anggy. Berawal dari obrolan sederhana, akhirnya pihak Falcon bersedia menjadi production house untuk penggarapan film tersebut. Indro langsung diminta menjadi produser eksekutif selama penggarapan film.
https://www.youtube.com/watch?v=2UCPMRM-kHk
Salah satu tantangan terbesar dalam pembuatan film tersebut adalah pemilihan aktor yang akan memerankan sosok Dono, Kasino, dan Indro. “Kami mencari pemain yang bukan sebatas selebriti, tapi yang sudah memiliki jiwa aktor,” tutur Anggy. Alhasil, Abimana Aryastya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro dipilih menjadi tokoh utama.
Anggy menjelaskan, Abimana dipilih karena dinilai mumpuni dan mampu menjiwai setiap karakter. Alasan pemilihan Tora Sudiro sebagai Indro adalah cukup dekat dengan sosok Indro di kehidupan nyata. Jadi, Tora tidak sulit menirukan gaya dan sikap Indro. Vino G. Bastian dipilih memerankan sosok Kasino lantaran Anggy menganggap Vino punya logat yang mirip dengan Kasino. “Jujur saja, saya sampai terharu. Saya seperti melihat almarhum Dono dan Kasino kembali dalam film ini,” kata Indro.
Meski mengangkat kembali grup lawak Warkop, Indro sama sekali tidak bermaksud menggantikan personel lawak tersebut. “Tidak ada seniman yang bisa tergantikan. Film dan usaha ini dibuat untuk melestarikan genre Warkop DKI,” papar Indro.
Indro mengungkapkan, dari film itu sebenarnya ada dua goal yang diharapkan. “Pertama, kami ingin menunjukkan bahwa zaman dulu juga bisa dilestarikan. Kedua, saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia itu punya film yang everlasting,” tandasanya. (pew/c14/adn)
WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 1

Produser: Frederica, Indro, HB Naveen, dan Dallas Sinaga
Sutradara: Anggy Umbara
Penulis: Anggy Umbara, Andi Awwe Wijaya, dan Bene Dion Rajaguguk
Pemain: Tora Sudiro, Vino G. Bastian, Abimana Aryasatya, dan Hannah Al Rashid
Musik: Andhika Triyadi
Production House: Falcon Pictures
Genre: Komedi
Tayang: 8 September 2016

Sumber: Jawa Pos, 2 September 2016

Jumat, 29 Juli 2016

JASON BOURNE: BOURNE

Bourne Kelima Kuat Sekaligus Lelah
           

          LOS ANGELES – Film kelima dari seri Bourne, Jason Bourne, mulai tayang di Indonesia pecan ini. Sama dengan seri sebelumnya, film tersebut berfokus pada sosok mantan agen CIA Jason Bourne (diperankan Matt Damon). Bedanya, kali ini dia ditampilkan lebih matang, lebih dewasa, dan terasa lebih nyata.
            Dalam perfilman Hollywood, Jason Bourne merupakan pesaing berat James Bond. Keduanya sama-sama berprofesi mata-mata, punya fisik dan kecerdasan di atas rata-rata, dan bertugas di misi berbahaya. Meski demikian, sang pemeran utama Matt Damon menyatakan, sosok mata-mata yang diperankannya lebih terkesan nyata.
            “Bourne lebih modern. Dia tidak terikat, tidak memercayai institusi, bahkan pihak yang merekrutnya, dan jelas-jelas melawan sistem yang berlaku,” ungkapnya sebagaimana dikutip UK Esquire.
            Pemeran utama sekaligus produser serial Bourne itu menambahkan, tokoh yang diperankannya terbilang tidak macam-macam. “Dia punya satu perempuan yang dicintainya. Kalau kekasihnya pergi pun, dia tidak bakal dengan cepat mencari pengganti,” imbuh Damon.
            Perbedaan lainnya, seluruh aksi yang terjadi dalam Jason Bourne dilakukan secara riil. Teknik CGI atau green screen sangat minim. Mengingat sosok Bourne kian menua, trainer Jason Walsh memberikan menu latihan khusus. “Saya ingin dia terlihat kuat sekaligus lelah,” paparnya. Menurut Walsh, kesan tersebut amat penting. Terlebih, dalam film, Bourne digambarkan mengalami tekanan mental cukup berat dan sempat menjadi petarung tangan kosong.
            Di film kelimanya tersebut, Bourne bakal kembali terlibat dalam misi rahasia lembaga yang menaunginya dahulu, CIA. Mata-mata yang mengalami kehilangan ingatan itu bertemu dengan rekan lamanya,Nicky Parsons (diperankan Julia Stiles). Parsons merencanakan momen tersebut setelah menyelidiki kasus kematian ayah Bourne di Reykjavik, Islandia.
            Bourne pun kembali terlibat dengan para agen CIA. Dalam menjalankan misinya, dia bakal bekerja sama dengan Parsons dan Kepala Divisi Cyber CIA Heather Lee (Alicia Vikander). Ketiganya akan mengahdapi Direktur CIA Robert Dewey (Tommy Lee Jones) serta anteknya, pembunuh bayaran The Asset (Vincent Cassel).
Dalam Jason Bourne, Damon kembali bersua dengan sutradara Bourne Supremacy (2004) dan Bourne Ultimatum (2007), Paul Greengrass. Di film tersebut, Greengrass mengangkat permasalahan privasi, akses media sosial, dan keamanan bangsa. Dia turun langsung dalam penulisan naskah bersama editor film, Christopher Rouse.
Rouse menjelaskan, alur Jason Bourne sangat to the point. “Kami membuat kekacauan yang lebih besar, lebih megah, sekaligus lebih rumit,” tegasnya. Hal itu juga diakui Vikander. “Film ini luar biasa. Isu sosial dan politiknya sama dengan yang biasa kalian baca, action-nya sangat nyata, dan alurnya menarik,” tuturnya sebagaimana dikutip Independent. (fam/c6/ayi)

DI BALIK JASON BOURNE
LATIHAN SUPERKERAS
FILM TERSULIT
DIDESAK FANS
Persiapan Matt Damon terbilang ekstrem. Tiap hari selama enam bulan dia melakoni latihan bersama trainer  Jason Walsh. Menunya meliputi latihan yang mirip panjat tebing, lari jarak jauh dengan medan berbukit, angkat beban, dan latihan metabolik. Selain itu, Damon berlatih tinju dan melakukan diet khusus.
Chairwoman Universal Studios Donna Langley menyatakan, Matt Damon dan sutradara Paul Greengrass pernah menegaskan selesai berurusan dengan Bourne  setelah Ultimatum (2007) rilis. “Tapi, kami kemudian sepakat bakal melanjutkan Bourne sampai keduanya benar-benar tidak bisa membuat film ini,” ucapnya.
Damon menjelasakan, dirinya mendapat banyak pertanyaan tentang sekuel Bourne dari fans. “Saya secara pribadi sudah cukup puas dengan tiga film Bourne. Tapi, hampir tiap tahun rasanya ada saja yang Tanya lanjutan Bourne tiap ketemu saya di kafe, bandara, bahkan jalanan,” kata Damon.

Sumber: Jawa Pos, 29 Juli 2016
Picture:http://www.imdb.com/title/tt0258463/mediaviewer/rm781490432