Bank

Selasa, 06 September 2016

WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS!

NOSTALGIA HUMOR ALA TRIO KOCAK
“Jangkrik Boss!”
            ITULAH salah satu ucapan paling legendaris ala Warkop DKI. Mungkin tidak banyak generasi muda yang tahu Warkop DKI dengan guyonan ringan dan cerdas. Namun, bagi penikmat serial TV pada era 70-90-an, nama Warkop DKI tentu sudah tidak asing. Karena ingin membawa kemabli nostalgia kekocakan ala Dono, Kasino, dan Indro, Anggy Umbara berkolaborasi dengan Indro warkop menggarap Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part I.
Untuk mempertahankan ciri khas Warkop DKI, Anggy sengaja menggabungkan beberapa film Warkop DKI lama. Di antaranya, CHIPS, Setan Kredit, dan IQ Jongkok, Anggy dan sang prosedur eksekutif, Indro, tidak berniat mengubah fondasi dari style joke dan gimmick Warkop DKI. Pembaruan justru lebih diutamakan pada story line dan materi lawakan yang lebih masa kini. “Karena itu, gaya film ini kurang tepat kalau disebut remake atau reboot. Lebih tepat kalau disebut sebagai reborn atau lahir kembali,” ungkap Anggy.
Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) terdaftar sebagai anggota muda CHIPS (Cara Hebat Ikut-ikutan Penanggulangan Sosial). Sebagai anggota yang belum lama menjabat dalam organisasi sosial tersebut, mereka sangat bersemangat menyelesaikan berbagai masalah yang didapat. Sayangnya, permasalahan yang mereka selesaikan justru makin besar.
Untuk mengarahkan tim DKI mampu menyelesaikan misinya dengan baik, pimpinan CHIPS pun memangil anggota terbaiknya dari Prancis, yakni Sophie (Hannah Al Rashid). Tidak sekadar cantik, Sophie juga lihai mengungkap kasus-kasus yang dihadapi CHIPS. Dengan aksi kocak DKI dan ketegasan Sophie, mereka berempat bakal mengungkap kasus begal motor yang dilanda masyarakat Jakarta.
Rencana pembuatan film reborn itu ternyata muncul sejak 2013. “Saat itu masih pembuatan film pertama Comic 8. Bang Indro langsung nyeletuk nih untuk membuat film baru Warkop DKI,” jelas Anggy. Berawal dari obrolan sederhana, akhirnya pihak Falcon bersedia menjadi production house untuk penggarapan film tersebut. Indro langsung diminta menjadi produser eksekutif selama penggarapan film.
https://www.youtube.com/watch?v=2UCPMRM-kHk
Salah satu tantangan terbesar dalam pembuatan film tersebut adalah pemilihan aktor yang akan memerankan sosok Dono, Kasino, dan Indro. “Kami mencari pemain yang bukan sebatas selebriti, tapi yang sudah memiliki jiwa aktor,” tutur Anggy. Alhasil, Abimana Aryastya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro dipilih menjadi tokoh utama.
Anggy menjelaskan, Abimana dipilih karena dinilai mumpuni dan mampu menjiwai setiap karakter. Alasan pemilihan Tora Sudiro sebagai Indro adalah cukup dekat dengan sosok Indro di kehidupan nyata. Jadi, Tora tidak sulit menirukan gaya dan sikap Indro. Vino G. Bastian dipilih memerankan sosok Kasino lantaran Anggy menganggap Vino punya logat yang mirip dengan Kasino. “Jujur saja, saya sampai terharu. Saya seperti melihat almarhum Dono dan Kasino kembali dalam film ini,” kata Indro.
Meski mengangkat kembali grup lawak Warkop, Indro sama sekali tidak bermaksud menggantikan personel lawak tersebut. “Tidak ada seniman yang bisa tergantikan. Film dan usaha ini dibuat untuk melestarikan genre Warkop DKI,” papar Indro.
Indro mengungkapkan, dari film itu sebenarnya ada dua goal yang diharapkan. “Pertama, kami ingin menunjukkan bahwa zaman dulu juga bisa dilestarikan. Kedua, saya ingin menunjukkan bahwa Indonesia itu punya film yang everlasting,” tandasanya. (pew/c14/adn)
WARKOP DKI REBORN : JANGKRIK BOSS PART 1

Produser: Frederica, Indro, HB Naveen, dan Dallas Sinaga
Sutradara: Anggy Umbara
Penulis: Anggy Umbara, Andi Awwe Wijaya, dan Bene Dion Rajaguguk
Pemain: Tora Sudiro, Vino G. Bastian, Abimana Aryasatya, dan Hannah Al Rashid
Musik: Andhika Triyadi
Production House: Falcon Pictures
Genre: Komedi
Tayang: 8 September 2016

Sumber: Jawa Pos, 2 September 2016

Jumat, 29 Juli 2016

JASON BOURNE: BOURNE

Bourne Kelima Kuat Sekaligus Lelah
           

          LOS ANGELES – Film kelima dari seri Bourne, Jason Bourne, mulai tayang di Indonesia pecan ini. Sama dengan seri sebelumnya, film tersebut berfokus pada sosok mantan agen CIA Jason Bourne (diperankan Matt Damon). Bedanya, kali ini dia ditampilkan lebih matang, lebih dewasa, dan terasa lebih nyata.
            Dalam perfilman Hollywood, Jason Bourne merupakan pesaing berat James Bond. Keduanya sama-sama berprofesi mata-mata, punya fisik dan kecerdasan di atas rata-rata, dan bertugas di misi berbahaya. Meski demikian, sang pemeran utama Matt Damon menyatakan, sosok mata-mata yang diperankannya lebih terkesan nyata.
            “Bourne lebih modern. Dia tidak terikat, tidak memercayai institusi, bahkan pihak yang merekrutnya, dan jelas-jelas melawan sistem yang berlaku,” ungkapnya sebagaimana dikutip UK Esquire.
            Pemeran utama sekaligus produser serial Bourne itu menambahkan, tokoh yang diperankannya terbilang tidak macam-macam. “Dia punya satu perempuan yang dicintainya. Kalau kekasihnya pergi pun, dia tidak bakal dengan cepat mencari pengganti,” imbuh Damon.
            Perbedaan lainnya, seluruh aksi yang terjadi dalam Jason Bourne dilakukan secara riil. Teknik CGI atau green screen sangat minim. Mengingat sosok Bourne kian menua, trainer Jason Walsh memberikan menu latihan khusus. “Saya ingin dia terlihat kuat sekaligus lelah,” paparnya. Menurut Walsh, kesan tersebut amat penting. Terlebih, dalam film, Bourne digambarkan mengalami tekanan mental cukup berat dan sempat menjadi petarung tangan kosong.
            Di film kelimanya tersebut, Bourne bakal kembali terlibat dalam misi rahasia lembaga yang menaunginya dahulu, CIA. Mata-mata yang mengalami kehilangan ingatan itu bertemu dengan rekan lamanya,Nicky Parsons (diperankan Julia Stiles). Parsons merencanakan momen tersebut setelah menyelidiki kasus kematian ayah Bourne di Reykjavik, Islandia.
            Bourne pun kembali terlibat dengan para agen CIA. Dalam menjalankan misinya, dia bakal bekerja sama dengan Parsons dan Kepala Divisi Cyber CIA Heather Lee (Alicia Vikander). Ketiganya akan mengahdapi Direktur CIA Robert Dewey (Tommy Lee Jones) serta anteknya, pembunuh bayaran The Asset (Vincent Cassel).
Dalam Jason Bourne, Damon kembali bersua dengan sutradara Bourne Supremacy (2004) dan Bourne Ultimatum (2007), Paul Greengrass. Di film tersebut, Greengrass mengangkat permasalahan privasi, akses media sosial, dan keamanan bangsa. Dia turun langsung dalam penulisan naskah bersama editor film, Christopher Rouse.
Rouse menjelaskan, alur Jason Bourne sangat to the point. “Kami membuat kekacauan yang lebih besar, lebih megah, sekaligus lebih rumit,” tegasnya. Hal itu juga diakui Vikander. “Film ini luar biasa. Isu sosial dan politiknya sama dengan yang biasa kalian baca, action-nya sangat nyata, dan alurnya menarik,” tuturnya sebagaimana dikutip Independent. (fam/c6/ayi)

DI BALIK JASON BOURNE
LATIHAN SUPERKERAS
FILM TERSULIT
DIDESAK FANS
Persiapan Matt Damon terbilang ekstrem. Tiap hari selama enam bulan dia melakoni latihan bersama trainer  Jason Walsh. Menunya meliputi latihan yang mirip panjat tebing, lari jarak jauh dengan medan berbukit, angkat beban, dan latihan metabolik. Selain itu, Damon berlatih tinju dan melakukan diet khusus.
Chairwoman Universal Studios Donna Langley menyatakan, Matt Damon dan sutradara Paul Greengrass pernah menegaskan selesai berurusan dengan Bourne  setelah Ultimatum (2007) rilis. “Tapi, kami kemudian sepakat bakal melanjutkan Bourne sampai keduanya benar-benar tidak bisa membuat film ini,” ucapnya.
Damon menjelasakan, dirinya mendapat banyak pertanyaan tentang sekuel Bourne dari fans. “Saya secara pribadi sudah cukup puas dengan tiga film Bourne. Tapi, hampir tiap tahun rasanya ada saja yang Tanya lanjutan Bourne tiap ketemu saya di kafe, bandara, bahkan jalanan,” kata Damon.

Sumber: Jawa Pos, 29 Juli 2016
Picture:http://www.imdb.com/title/tt0258463/mediaviewer/rm781490432 

Selasa, 26 April 2016

ADA APA DENGAN CINTA 2

ADA APA DENGAN CINTA 2
14 Tahun & HANYA BILANG KAMU JAHAT



 BESOK tayang di Tiga Negara....
Wajib tonton...
Premiere

Rabu, 06 April 2016

EYE IN THE SKY

EYE IN THE SKY
ONE BUTTON CHANGE IT ALL
DATA FILM:
Sutradara: Gavin Hood; Produser: Ged Doherty, Colin Firth, David Lancaster; Penulis: Guy Hibbert; Pemain: Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman, Barkhad Abdi; Musik: Paul Hepker, Mark Kilian; Sinematrografer: Haris Zambarkloukos; Editor film: Megan Gill; Produksi: eOne Films, Moonlighting Films, Entertainment One Features, Raindog Films; Distributor: Entertainment One, Shaw Organisation, UGC distribution, eOne Films, Blecker Street Media, Pancinema; Special Effects: Digital Domain; Rilis: 11 Maret 2016 (AS); Durasi: 102 menit; Rating: IMDb 7,3 – Rotten Tomatoes 7,3
                SAAT mendengar  “film teroris,” yang terbayang di kepala adalah pasukan berseragam memegang senjata canggih dan mengendap-endap menghindari pantauan musuh. Namun, sekarang mulai banyak film teroris yang mengusung kecanggihan tekhnologi. Misalnya, Good Kill (2015) yang bercerita tentang seorang pilot drone yang bisa melihat targetnya dengan sangat dekat melalui computer. Begitu juga serial TV Homeland tentang perburuan teroris dengan menggunakan drone.
                Jika dilihat secara saksama, bukan hanya tekhnologi yang ditonjolkan, melainkan juga perang ideologi. Begitu pun yang dilakukan Gavin Hood pada film teroris terbarunya, Eye in the Sky. Saat dunia perfilman mulai sedikit bosan dengan perang ala world war, Hood hadir dengan perang drone yang sekaligus menjadi film terakhir Alan Rickman sebelum meninggal pada Januari lau karena menderita kanker.
Menggarap film teroris bukanlah hal baru bagi sutradara yang juga pernah membikin X-Men Origins: Wolverin (2009) tersebut. Sebab, dia pernah terlibat dalam Rendition (2007) yang juga mengusung kisah teroris. Namun, kali ini Hood lebih berfokus pada action setiap tokoh jika dibandingkan dengan usaha membuat penonton “berpikir”. Karena itu, monolog pun dikurangi.
Eye in the Sky berkisah tentang perburuan para pentolan teroris di Kenya oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren). Dengan memekai kamera drone, Powell mengetahui rencana para teroris meledakkan bom bunuh diri. Karena itu, Powell yang bermarkas di London meminta izin membunuh mereka demi menggagalkan rencana bom bunuh diri. Sayangnya permintaan itu menjadi perdebtan sengit para politikus dan menteri Amerika.
Perdebatan tersebut tidak semata-mata terjadi untuk melindungi daerah sekitar. Namun, screenwriter Guy Hibbert ingin mengusung dilemma moral yang dibalut aksi. Karena itu, hadirlah sosok gadis penjual roti berumur sembilan tahun di dekat lokasi bom. “Saat kabar beredar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia, siapa yang punya kuasa memberikan keputusan to kill or not to kill?” ujar Hibbert kepada The Sidney Herald.
Dalam pembuatan film berdurasi 102 menit tersebut. Hood dan Hibbert harus melakukan riset untuk menciptakan karakter dalam film. “Kami memiliki pilot drone sungguhan yang menjadi penasihat teknis kami. Dia pernah menerbangkan F-16 sebelum drone untuk perang Iraq,” jelas Hood sebagaimana dilansir KCET. Selain itu, mereka menggali informasi dari orang-orang di intelegensi militer untuk menciptakan karakter Powell.
Meski mengambil beberapa latar lokasi berbeda, Eye in the Sky sebenarnya hanya diambil di Cape Town, Afrika Selatan, untuk meminimalkan biaya pembuatan film. Bahkan, beberapa adegan harus diambil dengan green screen yang mengandalkan imajinasi para pemain. (bs/als/c14/rat)
Sumber Jawa Pos: 11 Maret 2016



Senin, 21 Maret 2016

CIVIL WAR

THE AVENGERS TERBELAH

Trailer Kedua dari Film Captain America: Civil War

                LOS ANGELES- Di Amerika Serikat, Super Bowl merupakan acara olahraga yang paling popular. Ia bahkan dinobatkan sebagai hari libur nasional. Selain menayangkan final dua tim terbaik National Football Leageu (NFL), Super Bowl jadi “parade” iklan dan trailer film terbaik.
                Dalam jeda Super Bowl 50 Minggu malam waktu setempat (7/2), terselip cupilkan Captaian America: Civil War. Trailer berdurasi 32 detik tersebut tidak hanya baru, tetapi juga “menguak” bakal karakter yang akan muncul di seri ketiga Captain America tersebut. Ini menjadi trailer kedua setelah setelah yang pertama diluncurkan dua bulan lalu.
                Black Panther, Falcon, Vision, hingga War Machine muncul dalam kilasan tersebut, bersama member  The Avengers lainnya. Yang menarik, Marvel menghadirkan kejutan, yakni Ant-Man. Sementara itu, Spider-Man versi Tom Holland yang dirumorkan bakal debut dalam Civil War justru belum tampil sama sekali.
Dari teaser sebelumnya, Steve Rogers alias Captain America mengalami konflik dengan Iron Man. Selain memecah belah kubu The Avengers, perselisihan keduanya berdampak pada jagat superhero Marvel. Di akhir teaser , para penonton serta fans pun diminta menentukan pilihan: #TeamCap atau #TeamIronMan.
Merujuk pernyataan bos Marvel Studios Kevin Feige, Civil War merupakan akhir trilogy Captain America. “Ini adalah penutup seri  Captain America ,”  katanya kepada MTV News.
Dua judul sebelumnya adalah Captain America: The First Avenger (2011) dan Captain America: The Winter Soldier (2014). Feige menjelaskan, meski bertitel Captain America, penuturan kisah superhero yang diperankan Chris Evans tersebut justru disampaikan via orang lain. “Kami memboyong tokoh lain, terutama Tony Stark, untuk menceritakan Civil War. Namun, inti ceritanya masih tersambung dengan Winter Soldier,” ungkapnya.
Meski merupakan sekuel terakhir, Feige belum mau membongkar nasib pahlawan dengan senjata tameng berbahan campuran vibranium-baja itu.
Akankah Captain America bernasib mirip di komik – tewas di tangan Crossbones dan eks agen S.H.I.E.L.D Sharon Carter yang telah dicuci otak, lantas digantikan Winter Soldier? Tunggu saja filmnya yang akan tayang perdana 6 Meimendatang. (fam/c17/ayi)

YANG MUNCUL DI TRAILER KEDUA

BUCKY BARNES KEMBALI

Di awal cuplikan, Bucky Barnes yang merupakan sahabat baik Steve Rogers tersambung dengan mesin dan kabel-kabel. Di scene selanjutnya, Barnes hampir selalu bersama Captain America. Tanpa kostum Winter Soldier, Barnes mengancam Tony Stark alias Iron Man dengan pistol. Di akhir teaser , dia mengenakan lagi kostum Soldier-nya.

WAR MACHINE TERLUKA

Sosok pahlawan super yang juga sahabat Iron Man tergeletak. Topeng War Machine yang diperankan Don Cheadle juga terbuka, menampakkan wajah empunya yang terluka.

TEAM CAP VS TEAM IRON MAN

Berbeda dengan Batman v Superman: Dawn of Justice yang menampakkan duel satu lawan satu, Civil War menyuguhkan “perang” antartim. Kubu Captain America diperkuat Scarlet Witch, Winter Soldier, Falcon, Hawkeye, serta Ant-Man. Sementara itu, di skuad Iron Man, ada Black Widow, Black Panther, Vision, dan War Machine.

TONY STARK BUAT INOVASI KOSTUM

Tokoh yang diperankan Robert Downey Jr tersebut mengembangkan teknologi baru buat kostumnya. Kali ini Stark membuat gloves dengan pengendali di bagian pergelangan tangan Iron Man.

Sumber: Jawa Pos, 10 Pebruari 2016