Bank

Kamis, 19 Januari 2017

Wiji Thukul "Istirahatlah Kata-kata"


Wiji Thukul Ungkap Sejarah Orde Baru lewat Puisi
PENGORBANAN bangsa Indonesia demi membentuk kesatuan negara yang kukuh emang nggak sedikit. Perjuangan menyatukan pikiran masyarakat dari Sabang sampai Merauke nggak pendek, apalagi mudah. Sayang, beberapa bagian sejarah Indonesia justru kurang terekspos mendalam pada buku pelajaran sekolah.
Menyadarinya, sutradara Yosep Anggi Noen dan produser Yulia Evina Bhara mengusung film Istirahatlah Kata-Kata. Menceritakan momen berakhirnya Orde Baru lewat keseharian penyair Wiji Thukul, film tersebut mampu menembus festival bertaraf internasional. Nggak heran, Istirahatlah Kata-Kata menuai banyak pujian.
Film itu dikemas melalui kacamata Wiji Thukul, sastrawan dan aktivis asal Solo. Sang sutradara, Anggi, berusaha membangun gambaran ketakutan masyarakat pada masa itu, khususnya keluarga hingga teman yang dikenal para aktivis. Setelah insiden Kudatuli (kerusuhan pada 27 Juli 1996), Wiji Thukul dinyatakan sebagai buron. Dia yang menyayangi keluarganya terpaksa lari ke Pontianak. Masa krusial Wiji Thukul pun dimulai. Jauh dari kawan dan keluarga membuat Wiji sadar bahwa langkahnya nggak bisa berhenti di sana.
Bagi Anggi dan Yulia, mengangkat kembali cerita hilangnya beberapa aktivis saat perjuangan mengakhiri Orde Baru bukanlah perkara mudah. Namun, mereka ingin masyarakat tetap ingat bahwa demokrasi yang  bisa dihirup hari ini adalah perjuangan sulit saat itu. “Bahkan, Wiji Thukul dan 12 kawannya hilang dan belum kembali hingga hari ini,” tegas Yulia.
Karena itu, puisi-puisi Wiji Thukul menjadi bahan utama buat meracik film tersebut. Karya yang mewakili pandangan Wiji yang lugas dan jujur itulah yang ditafsirkan Anggi dkk untuk menggarap film tersebut secara mendalam. Lewat diskusi panjang, Anggi mengambil benang merah puisi Wiji Thukul dan meramunya menjadi dialog yang jauh dari kesan politik, melainkan cerita pergulatan hati sang satrawan.
“Wiji menyajikan kesehariannya dalam puisi yang lugas sekaligus lugu. Hal itu sangat efektif mencatat situasi saat itu serta mengorek sistem politik dan kekuasaan yang kurang sesuai pada masa itu,” ujar Anggi.
Bukan hanya itu, sanjungan Anggi dan tim terhadap puisi Wiji nggak hanya dibentuk pada dialog dan soundtrack film, tapi juga penokohan. Para pemeran Istirahatlah Kata-Kata di-treatment agar mengekplorasi sendiri karakter yang mereka perankan. Misalnya, terpilihnya Gunawan Maryanto sebagai sosok Wiji Thukul.
“Dia dipilih karena juga dikenal sebagai seorang penyair dan satrawan yang memercayai kata-kata layaknya Wiji Thukul,” ucap Yulia, produser yang juga pernah menggarap film On the Origin of Fear. Selain itu, akting Marissa Yunita sebagai Sipon, istri Wiji Thukul, yang tertekan dengan lingkungannya pada masa itu nggak kalah cemerlang.
Dpersiapkan sebagai film festival dengan materi yang cukup berat, film tersebut telah lama diimpikan Anggi dan Yulia agar mampu menembus layar bioskop. Perjuangan secara mandiri untuk bisa masuk di layar kaca mainstream dimulai dengan menggaet banyak rumah produksi dan mencuri kesempatan tampil di berbagai festival film. Cara itu menjadi langkah kuat agar film tersebut mendapat respons positif masyarakat. Termasuk mencapai tujuan utama mereka, yakni membuka wawasan generasi sekarang tentang situasi pada zaman Orde Baru.
Mereka percaya, menambah keragaman film di layar bioskop Indonesia mampu mengubah pola pikir generasi sekarang yang hanya terlihat hedon. “Terbukti, saat Busan Internasional Film Festival, ada sekitar 13 anak muda dari Indonesia yang mau menonton dan mengapresiasi film itu. Begitu pula di Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang sebagian besar penontonnya adalah anak muda,” ungkap Anggi bangga. (pew/c22/ivm)

Kumpulkan Fakta dari Saksi Sejarah
DEMI meracik dialog dan membentuk karakter setiap tokoh. Yosep Anggi Noen dan timnya menelusuri perjalanan Wiji Thukul. Mereka mencari tahu kebiasaan Wiji saat bersama keluarga hingga sikapnya dalam melontarkan puisi-puisinya di berbagai gerakan massa. Riset itu berjalan selama 1,5 tahun.
Berawal dari literasi karya Wiji Thukul, Anggi melihat bahwa puisi Wiji Thukul bukan hanya puisi protes untuk pemerintahan masa itu. Puisi satrawan tersebut juga berisi tentang kesehariannya. Baginya, membaca puisi-puisi Wiji Thukul seperti membaca catatan harian seseorang tentang rumah sederhana, nasi, roti yang nggak terbeli, dan cerita-cerita tetangga.
Pendekatan bersama keluarganya memberikan gambaran beberapa hal yang diwariskan sastrawan tersebut kepada anak-anak dan istrinya. Misalnya, sosok Fajar Merah, si bungsu yang menekuni dunia musik bersama Merah Bercerita dan lantangnya suara si sulung Fitri Nganthi Wani. Selain itu, kemandirian Sipon-sang istri- terasa saat menunjukkan benda bergambar suaminya sebagai ingatan bersama.
Selanjutnya, pencarian berlanjut dengan menelusuri sahabat seperjuangan Wiji ketika masih di Solo. Termasuk orang yang dikenal Wiji saat melakukan pelarian ke Pontianak. Kawan-kawannya di Partai Rakyat Demokratik seperti Danial indra Kusuma, Raharja Waluya Jati, Nur Widiatmaka, dan banyak lagi senantiasa menggambarkan pemikiran Wiji yang lugu tapi kuat.
Lebih menarik lagi, cerita dari Jaap Erkelens, direktur Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde (KITLV). Dialah teman Wiji yang berkebangsaan Belanda yang kali pertama mengingatkan publik bahwa Wiji masih hilang. “Mereka benar-benar memberikan materi sejarah Indonesia yang tidak akan diberikan siapa pun,” terang Yulia Evina Bhara, produser Istirahatlah Kata-Kata.
Setelah mereka mendengar jejak hidup Wiji secara menyeluruh, masa Wiji Thukul yang melarikan diri ke Pontianak dipilih untuk diangkat ke dalam film. Masa itu dipilih karena saat itu merupakan situasi paling krusial yang harus dihadapi Wiji Thukul.
Nggak mau membuang waktu, Anggi dan timnya juga menyusuri Kalimantan Barat untuk mencari orang yang pernah bertemu dengan Wiji. Ada kenalan Wiji, yaitu Stephanus Djueng, Martin Siregar, dan Idawaty, yang bersedia menampung Wiji selama masa buron.
Hingga terkuak fakta menarik bahwa meninggalkan keluarga bukanlah keinginan seorang Wiji. Dia lari menuju Pontianak bukan karena takut, melainkan demi menyelamatkan keluarganya. Dia paham, keluaganya makin susah jika dirinya msaih menetap di Solo pada situasi seperti itu. Tapi, sekitar Januari 1997, Wiji kembali ke Solo untuk menjenguk keluarganya dan kembali lagi ke Pontianak hingga pergi ke Jakarta untuk kembali melakukan gerakan. “Dari Solo, Jakarta, hingga pedalaman Sanggau di Kalimantan sana, kami beruntung bisa bertemu dengan pelaku-pelaku kunci sejarah ini,” tutur Yulia. (pew/c14/ivm)

Hidupkan Sosok Bapak Melalui Soundtrack
SELAIN dikenal lewat puisinya, sosok Wiji Thukul merupakan aktivis yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru, nggak heran, idealismenya menurun kepada si anak, Fajar Merah. Ya, Fajar adalah salah seorang personel Merah Bercerita, pengisi soundtrack film Istirahatlah Kata-Kata.
Seakan nggak ingin puisi sang ayah mati, Fajar lantas menghidupkan puisi-puisi tersebut melalui musik yang diusungnya. Hingga akhirnya, salah satu tembangnya, Bunga dan Tembok, dipilih menjadi soundtrack dalam film Istirahatlah Kata-Kata yang menceritakan kehidupan bapaknya.
Diadaptasi dari puisi terkenal milik Wiji Thukul pada 1987, puisi itu bercerita tentang pembangunan pemerintah pada pemerintahan Soeharto. Dalam puisi tersebut, menurut Fajar, bunga diibaratkan sebagai rakyat kecil yang dirontokkan dan nggak diharapkan tumbuh di tanahnya sendiri. Tembok diibaratkan sebagai penguasa yang suka merampas tanah.
“Tapi, arti puisi itu ya penulisnya yang lebih tahu. Kalau ketemu, tanya saja artinya, hehe,” ucapnya lalu bercanda. Emang, puisi tersebut merupakan wujud ekspresi Wiji yang menggambarkan keserakahan pemerintah pada saat itu, tepatnya tentang keadaan pribumi yang nelangsa di tanah sendiri karena adanya tirani. Sebuah bentuk pemerintahan yang lebih mementingkan urusan pribadi di atas kepentingan rakyat.
Untuk urusan lagu, Merah Bercerita nggak mematok genre khusus untuk berkarya. Mereka mengistilahkannya sound of freedom agar tiap pendengar bebas memaknai dengan genre apa saja. Saat ini Merah Bercerita merekam album baru.
Band itu mengusung tema yang menekankan kepada pribadi manusia. Tujuannya, mengintrospeksi diri, sudah manusiakah aku ini? Untuk menghasilkan karya-karya yang ciamik, Merah Bercerita membutuhkan waktu agak lama.
Hampir sama dengan sang bapak, daripada menjadi musisi atau sastrawan terkenal yang masuk TV, Fajar lebih suka karyanya didengar sekaligus mewakili masyarakat. “Tema albumnya bakalan lebih ke diri pribadi. Bagaimanapun juga, kan diri sendiri butuh dibenahi,” ujar Fajar. (fri/c5/ivm)

Sumber: ZETIZEN – Jawa Pos, 18 Januari 2017
Gambar:https://www.google.co.id/search?q=gambar+film+Istirahatlah+kata-kata&espv=2&biw=1272&bih=634&tbm=isch&imgil=KJ-XX2lJBy7QpM%253A%253BTjq2XfR-LRIgCM%253Bhttp%25253A%25252F%25252Fwww.storibriti.com%25252Fvideo%25252Fcup-of-tea%25252Fistirahatlah-kata-kata-film-mengenang-sang-pejuang-dan-pujangga-1608158.html&source=iu&pf=m&fir=KJ-XX2lJBy7QpM%253A%252CTjq2XfR-LRIgCM%252C_&usg=__8vpUDqgqWtGYr6njsbO8BLSjcNE%3D&ved=0ahUKEwio8a2Ixs_RAhUDa7wKHReGAREQyjcIMg&ei=lWSBWOjSI4PW8QWXjIaIAQ#imgrc=b4Hik58h5D33DM%3A 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar