Wiji Thukul Ungkap
Sejarah Orde Baru lewat Puisi
PENGORBANAN bangsa
Indonesia demi membentuk kesatuan negara yang kukuh emang nggak sedikit.
Perjuangan menyatukan pikiran masyarakat dari Sabang sampai Merauke nggak
pendek, apalagi mudah. Sayang, beberapa bagian sejarah Indonesia justru kurang
terekspos mendalam pada buku pelajaran sekolah.
Menyadarinya,
sutradara Yosep Anggi Noen dan produser Yulia Evina Bhara mengusung film Istirahatlah Kata-Kata. Menceritakan
momen berakhirnya Orde Baru lewat keseharian penyair Wiji Thukul, film tersebut
mampu menembus festival bertaraf internasional. Nggak heran, Istirahatlah Kata-Kata menuai banyak
pujian.
Film
itu dikemas melalui kacamata Wiji Thukul, sastrawan dan aktivis asal Solo. Sang
sutradara, Anggi, berusaha membangun gambaran ketakutan masyarakat pada masa
itu, khususnya keluarga hingga teman yang dikenal para aktivis. Setelah insiden
Kudatuli (kerusuhan pada 27 Juli 1996), Wiji Thukul dinyatakan sebagai buron.
Dia yang menyayangi keluarganya terpaksa lari ke Pontianak. Masa krusial Wiji
Thukul pun dimulai. Jauh dari kawan dan keluarga membuat Wiji sadar bahwa
langkahnya nggak bisa berhenti di sana.
Bagi
Anggi dan Yulia, mengangkat kembali cerita hilangnya beberapa aktivis saat
perjuangan mengakhiri Orde Baru bukanlah perkara mudah. Namun, mereka ingin
masyarakat tetap ingat bahwa demokrasi yang
bisa dihirup hari ini adalah perjuangan sulit saat itu. “Bahkan, Wiji
Thukul dan 12 kawannya hilang dan belum kembali hingga hari ini,” tegas Yulia.
Karena
itu, puisi-puisi Wiji Thukul menjadi bahan utama buat meracik film tersebut.
Karya yang mewakili pandangan Wiji yang lugas dan jujur itulah yang ditafsirkan
Anggi dkk untuk menggarap film tersebut secara mendalam. Lewat diskusi panjang,
Anggi mengambil benang merah puisi Wiji Thukul dan meramunya menjadi dialog
yang jauh dari kesan politik, melainkan cerita pergulatan hati sang satrawan.
“Wiji
menyajikan kesehariannya dalam puisi yang lugas sekaligus lugu. Hal itu sangat
efektif mencatat situasi saat itu serta mengorek sistem politik dan kekuasaan
yang kurang sesuai pada masa itu,” ujar Anggi.
Bukan
hanya itu, sanjungan Anggi dan tim terhadap puisi Wiji nggak hanya dibentuk
pada dialog dan soundtrack film, tapi
juga penokohan. Para pemeran Istirahatlah
Kata-Kata di-treatment agar
mengekplorasi sendiri karakter yang mereka perankan. Misalnya, terpilihnya
Gunawan Maryanto sebagai sosok Wiji Thukul.
“Dia
dipilih karena juga dikenal sebagai seorang penyair dan satrawan yang
memercayai kata-kata layaknya Wiji Thukul,” ucap Yulia, produser yang juga
pernah menggarap film On the Origin of
Fear. Selain itu, akting Marissa Yunita sebagai Sipon, istri Wiji Thukul,
yang tertekan dengan lingkungannya pada masa itu nggak kalah cemerlang.
Dpersiapkan
sebagai film festival dengan materi yang cukup berat, film tersebut telah lama
diimpikan Anggi dan Yulia agar mampu menembus layar bioskop. Perjuangan secara
mandiri untuk bisa masuk di layar kaca mainstream
dimulai dengan menggaet banyak rumah produksi dan mencuri kesempatan tampil di
berbagai festival film. Cara itu menjadi langkah kuat agar film tersebut
mendapat respons positif masyarakat. Termasuk mencapai tujuan utama mereka,
yakni membuka wawasan generasi sekarang tentang situasi pada zaman Orde Baru.
Mereka
percaya, menambah keragaman film di layar bioskop Indonesia mampu mengubah pola
pikir generasi sekarang yang hanya terlihat hedon. “Terbukti, saat Busan Internasional
Film Festival, ada sekitar 13 anak muda dari Indonesia yang mau menonton dan
mengapresiasi film itu. Begitu pula di Jogja-NETPAC Asian Film Festival yang
sebagian besar penontonnya adalah anak muda,” ungkap Anggi bangga. (pew/c22/ivm)
Kumpulkan Fakta dari Saksi Sejarah
DEMI meracik dialog dan
membentuk karakter setiap tokoh. Yosep Anggi Noen dan timnya menelusuri
perjalanan Wiji Thukul. Mereka mencari tahu kebiasaan Wiji saat bersama
keluarga hingga sikapnya dalam melontarkan puisi-puisinya di berbagai gerakan
massa. Riset itu berjalan selama 1,5 tahun.
Berawal dari literasi karya Wiji
Thukul, Anggi melihat bahwa puisi Wiji Thukul bukan hanya puisi protes untuk
pemerintahan masa itu. Puisi satrawan tersebut juga berisi tentang
kesehariannya. Baginya, membaca puisi-puisi Wiji Thukul seperti membaca catatan
harian seseorang tentang rumah sederhana, nasi, roti yang nggak terbeli, dan
cerita-cerita tetangga.
Pendekatan bersama keluarganya
memberikan gambaran beberapa hal yang diwariskan sastrawan tersebut kepada
anak-anak dan istrinya. Misalnya, sosok Fajar Merah, si bungsu yang menekuni
dunia musik bersama Merah Bercerita dan lantangnya suara si sulung Fitri
Nganthi Wani. Selain itu, kemandirian Sipon-sang istri- terasa saat menunjukkan
benda bergambar suaminya sebagai ingatan bersama.
Selanjutnya, pencarian berlanjut
dengan menelusuri sahabat seperjuangan Wiji ketika masih di Solo. Termasuk
orang yang dikenal Wiji saat melakukan pelarian ke Pontianak. Kawan-kawannya di
Partai Rakyat Demokratik seperti Danial indra Kusuma, Raharja Waluya Jati, Nur
Widiatmaka, dan banyak lagi senantiasa menggambarkan pemikiran Wiji yang lugu
tapi kuat.
Lebih menarik lagi, cerita dari Jaap
Erkelens, direktur Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde (KITLV).
Dialah teman Wiji yang berkebangsaan Belanda yang kali pertama mengingatkan
publik bahwa Wiji masih hilang. “Mereka benar-benar memberikan materi sejarah
Indonesia yang tidak akan diberikan siapa pun,” terang Yulia Evina Bhara,
produser Istirahatlah Kata-Kata.
Setelah mereka mendengar jejak hidup
Wiji secara menyeluruh, masa Wiji Thukul yang melarikan diri ke Pontianak
dipilih untuk diangkat ke dalam film. Masa itu dipilih karena saat itu
merupakan situasi paling krusial yang harus dihadapi Wiji Thukul.
Nggak mau membuang waktu, Anggi dan
timnya juga menyusuri Kalimantan Barat untuk mencari orang yang pernah bertemu
dengan Wiji. Ada kenalan Wiji, yaitu Stephanus Djueng, Martin Siregar, dan
Idawaty, yang bersedia menampung Wiji selama masa buron.
Hingga terkuak fakta menarik bahwa
meninggalkan keluarga bukanlah keinginan seorang Wiji. Dia lari menuju
Pontianak bukan karena takut, melainkan demi menyelamatkan keluarganya. Dia
paham, keluaganya makin susah jika dirinya msaih menetap di Solo pada situasi
seperti itu. Tapi, sekitar Januari 1997, Wiji kembali ke Solo untuk menjenguk
keluarganya dan kembali lagi ke Pontianak hingga pergi ke Jakarta untuk kembali
melakukan gerakan. “Dari Solo, Jakarta, hingga pedalaman Sanggau di Kalimantan
sana, kami beruntung bisa bertemu dengan pelaku-pelaku kunci sejarah ini,”
tutur Yulia. (pew/c14/ivm)
Hidupkan Sosok Bapak Melalui Soundtrack
SELAIN dikenal
lewat puisinya, sosok Wiji Thukul merupakan aktivis yang ikut melawan
penindasan rezim Orde Baru, nggak heran, idealismenya menurun kepada si anak,
Fajar Merah. Ya, Fajar adalah salah seorang personel Merah Bercerita, pengisi soundtrack film Istirahatlah Kata-Kata.
Seakan
nggak ingin puisi sang ayah mati, Fajar lantas menghidupkan puisi-puisi
tersebut melalui musik yang diusungnya. Hingga akhirnya, salah satu tembangnya,
Bunga dan Tembok, dipilih menjadi soundtrack dalam film Istirahatlah Kata-Kata yang menceritakan
kehidupan bapaknya.
Diadaptasi
dari puisi terkenal milik Wiji Thukul pada 1987, puisi itu bercerita tentang
pembangunan pemerintah pada pemerintahan Soeharto. Dalam puisi tersebut,
menurut Fajar, bunga diibaratkan sebagai rakyat kecil yang dirontokkan dan
nggak diharapkan tumbuh di tanahnya sendiri. Tembok diibaratkan sebagai
penguasa yang suka merampas tanah.
“Tapi,
arti puisi itu ya penulisnya yang lebih tahu. Kalau ketemu, tanya saja artinya,
hehe,” ucapnya lalu bercanda. Emang, puisi tersebut merupakan wujud ekspresi
Wiji yang menggambarkan keserakahan pemerintah pada saat itu, tepatnya tentang
keadaan pribumi yang nelangsa di tanah sendiri karena adanya tirani. Sebuah
bentuk pemerintahan yang lebih mementingkan urusan pribadi di atas kepentingan
rakyat.
Untuk
urusan lagu, Merah Bercerita nggak mematok genre khusus untuk berkarya. Mereka
mengistilahkannya sound of freedom agar
tiap pendengar bebas memaknai dengan genre apa saja. Saat ini Merah Bercerita
merekam album baru.
Band
itu mengusung tema yang menekankan kepada pribadi manusia. Tujuannya,
mengintrospeksi diri, sudah manusiakah aku ini? Untuk menghasilkan karya-karya
yang ciamik, Merah Bercerita membutuhkan waktu agak lama.
Hampir
sama dengan sang bapak, daripada menjadi musisi atau sastrawan terkenal yang
masuk TV, Fajar lebih suka karyanya didengar sekaligus mewakili masyarakat.
“Tema albumnya bakalan lebih ke diri pribadi. Bagaimanapun juga, kan diri
sendiri butuh dibenahi,” ujar Fajar. (fri/c5/ivm)
Sumber: ZETIZEN – Jawa Pos, 18 Januari 2017
Gambar:https://www.google.co.id/search?q=gambar+film+Istirahatlah+kata-kata&espv=2&biw=1272&bih=634&tbm=isch&imgil=KJ-XX2lJBy7QpM%253A%253BTjq2XfR-LRIgCM%253Bhttp%25253A%25252F%25252Fwww.storibriti.com%25252Fvideo%25252Fcup-of-tea%25252Fistirahatlah-kata-kata-film-mengenang-sang-pejuang-dan-pujangga-1608158.html&source=iu&pf=m&fir=KJ-XX2lJBy7QpM%253A%252CTjq2XfR-LRIgCM%252C_&usg=__8vpUDqgqWtGYr6njsbO8BLSjcNE%3D&ved=0ahUKEwio8a2Ixs_RAhUDa7wKHReGAREQyjcIMg&ei=lWSBWOjSI4PW8QWXjIaIAQ#imgrc=b4Hik58h5D33DM%3A

Tidak ada komentar:
Posting Komentar