Film merupakan salah satu hal yang tidak pernah ada habisnya untuk dibahas. Seperti halnya cemilan yang enak
Bank
Selasa, 26 April 2016
ADA APA DENGAN CINTA 2
ADA APA DENGAN CINTA 2
Rabu, 06 April 2016
EYE IN THE SKY
EYE IN THE SKY
ONE BUTTON CHANGE IT ALL
DATA FILM:
Sutradara: Gavin Hood; Produser:
Ged Doherty, Colin Firth, David
Lancaster; Penulis: Guy Hibbert; Pemain:
Helen Mirren, Aaron Paul, Alan Rickman,
Barkhad Abdi; Musik: Paul Hepker,
Mark Kilian; Sinematrografer: Haris
Zambarkloukos; Editor film: Megan
Gill; Produksi: eOne Films,
Moonlighting Films, Entertainment One Features, Raindog Films; Distributor:
Entertainment One, Shaw Organisation,
UGC distribution, eOne Films, Blecker Street Media, Pancinema; Special
Effects: Digital Domain; Rilis: 11 Maret 2016 (AS); Durasi: 102 menit; Rating: IMDb 7,3 – Rotten Tomatoes 7,3
SAAT
mendengar “film teroris,” yang
terbayang di kepala adalah pasukan berseragam memegang senjata canggih dan
mengendap-endap menghindari pantauan musuh. Namun, sekarang mulai banyak film
teroris yang mengusung kecanggihan tekhnologi. Misalnya, Good Kill (2015) yang bercerita tentang seorang pilot drone yang bisa melihat targetnya dengan
sangat dekat melalui computer. Begitu juga serial TV Homeland tentang perburuan teroris dengan menggunakan drone.
Jika
dilihat secara saksama, bukan hanya tekhnologi yang ditonjolkan, melainkan juga
perang ideologi. Begitu pun yang dilakukan Gavin Hood pada film teroris
terbarunya, Eye in the Sky. Saat
dunia perfilman mulai sedikit bosan dengan perang ala world war, Hood hadir dengan perang drone yang sekaligus menjadi film terakhir Alan Rickman sebelum
meninggal pada Januari lau karena menderita kanker.
Menggarap film teroris bukanlah
hal baru bagi sutradara yang juga pernah membikin X-Men Origins: Wolverin (2009) tersebut. Sebab, dia pernah terlibat
dalam Rendition (2007) yang juga
mengusung kisah teroris. Namun, kali ini Hood lebih berfokus pada action setiap tokoh jika dibandingkan
dengan usaha membuat penonton “berpikir”. Karena itu, monolog pun dikurangi.
Eye in the Sky berkisah tentang perburuan para pentolan teroris di
Kenya oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren). Dengan memekai kamera drone, Powell mengetahui rencana para
teroris meledakkan bom bunuh diri. Karena itu, Powell yang bermarkas di London
meminta izin membunuh mereka demi menggagalkan rencana bom bunuh diri.
Sayangnya permintaan itu menjadi perdebtan sengit para politikus dan menteri
Amerika.
Perdebatan tersebut tidak semata-mata
terjadi untuk melindungi daerah sekitar. Namun, screenwriter Guy Hibbert ingin mengusung dilemma moral yang dibalut
aksi. Karena itu, hadirlah sosok gadis penjual roti berumur sembilan tahun di
dekat lokasi bom. “Saat kabar beredar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia,
siapa yang punya kuasa memberikan keputusan to
kill or not to kill?” ujar Hibbert kepada The Sidney Herald.
Dalam pembuatan film berdurasi
102 menit tersebut. Hood dan Hibbert harus melakukan riset untuk menciptakan
karakter dalam film. “Kami memiliki pilot drone
sungguhan yang menjadi penasihat teknis kami. Dia pernah menerbangkan F-16
sebelum drone untuk perang Iraq,”
jelas Hood sebagaimana dilansir KCET. Selain
itu, mereka menggali informasi dari orang-orang di intelegensi militer untuk
menciptakan karakter Powell.
Meski mengambil beberapa latar
lokasi berbeda, Eye in the Sky sebenarnya
hanya diambil di Cape Town, Afrika Selatan, untuk meminimalkan biaya pembuatan
film. Bahkan, beberapa adegan harus diambil dengan green screen yang mengandalkan imajinasi para pemain. (bs/als/c14/rat)
Sumber
Jawa Pos: 11 Maret 2016
Langganan:
Postingan (Atom)
